Entri Populer

Kamis, 25 November 2010

entah apa

"25 Feb 2010 17:00 - 20:30"

hari  itu mungkin salah satu hari terindah saya sama dia, nonton HP7 bareng dia
hang out bareng dia, tapi hari itu ada sedikit yang mengganggu, entah apa ??? apa yachhhh................. :D

mungkin hari itu saya membuat kesalahan yang mungkin dia susah untuk memaafkan saya
"Sorry yachhhhh:'("
mungkin itu yang membuat dia berpikir kalau saya hanya mempermainkan dia ....."Astagfirullah tidak sama sekali"
rasa ragu itu muncul pada dirinya......"maaf yachhhh"
semoga itu tidak mengubah rasa sayang kamu ke saya

rasa penyesalan menghantui diriku sepanjang malam..."uchhh bodo' "
saya juga bertanya-tanya pada diri saya sendiri "kenapa saya bodo' sekali"
"kenapa harus.......uchhhh"
ingin rasanya menghilang dari peredaran......

ndak tau apa lagi mau saya tulis di postingan ini...
senang....bingung....gelisah....bersalah.....uchhhhhh........"bodo' " :')

Sabtu, 13 November 2010

tips untuk menjadi musisi

KATA ORANG, kegagalan adalah sukses yang tertunda. Bisa jadi begitu. Tapi mungkin juga orang itu memang tidak punya visi sukses. Banyak musisi yang ngetop sekarang, lahir dari sebuah perjalanan panjang yang “berdarah-darah” istilahnya. Meski sekarang juga banyak musisi instan yang lahir dari keberuntungan. Hasilnya pasti berbeda. Belum ada riset yang membuktikan secara ilmiah sih, tapi kita bisa tahu dari track record-nya kelak, yang instant biasanya tidak punya mental yang kuat.

Musikus sukses adalah musikus yang terus mencoba, meskipun telah mengalami banyak kegagalan. Ia memandang kemampuannya bermusik sebagai peluang untuk mencapai kesuksesan. Kalau penelitian di Eropa, pernah menemukan satu sintesa, musisi yang kuat mental dam punya visi sukses yang kuat, biasanya akan berhasil mencapai tujuannya. Itulah kira-kira kesimpulan dari penelitian selama 40 tahun terhadap orang-orang sukses.

Dari pengalaman, ngobrol dengan pelaku-pelaku industri musik, dan terlibat banyak diskusi, ada garis linier yang bisa dilihat mengapa banyak musisi gagal, bertahan lama, dan instan sukses, tapi instan pula “matinya”. Mungkin tidak banyak yang ngeh dan memperhatikan dan mengevaluasi kenapa musisi-musisi itu seperti itu. Saya coba menelisik tulisan tentang penyanyi, band, atau musisi baru selama 10 tahun terakhir. Saya coba mengamati bagaimana dan mengapa mereka tergerak untuk menjadi teratas, lagunya ngetop, band-nya laris, gosipnya kencang.

Dari semua itu, saya mencoba memberi simpul kunci sukses yang mereka raih. Mungkin tidak semuanya tepat, tapi pengalaman dan upaya banyak musisi itu, bisa jadi catatan untuk musisi baru yang mencoba merengkuh sukses.

1.Sukses Itu Mau Ambil Risiko
Banyak band baru yang berharap, ketika mencipta lagu yang menurut mereka bagus, rame di-request di radio, artinya jalan sukses terbentang lebar. Sabar bung! Tidak semudah itu. Banyak band yang sukses berani ambil resiko dengan nekat mendatangi label, mengirim materi sendiri, kadang merekam dan mengedarkannya sendiri Tidak semua berhasil, tapi mencoa dan kemudian merasakan sebuah perjuangan, itu akan membuat mereka tangguh, ketika kelak berhasil.

Tak hanya itu, menjalin relasi sebanyak-banyaknya sebelum ngetop, dalam arti relasi tanpa asas manfaat doing, aktif bertanya dan belajar membangun jaringan yang kuat, akan sangat membantu kelak. Cara menjadi musisi sukses adalah dengan menjadi pengambil risiko moderat; yang mau terus mengambil risiko untuk meraih sukses.

2.Merasa Harus Berbuat Untuk Dunia Musik
Ingin masuk ke industri, tapi hanya berpikir sukses jadi musisi ngetop? Mungkin bisa, tapi percayalah, kalau itu yang Anda lakukan, eksistensi Anda tidak akan panjang. Kesuksesan yang Anda raih, akan instan. Sukur kalau bisa menjaa materi yang Anda dapat, kalau kemudian meredup dan tak berkarya lagi, bisa jadi orang susah beneran.

Musisi yang ingin sukss harus punya visi jelas tentang karirnya. Mereka harus memandang sebuah dunia yang besar dan ingin memainkan peranan penting di dalamnya. Mereka tetap berkarya sesuai skill mereka, sambil tetap menyadari bahwa dunia musik inilah yang memberi mereka kesempatan untuk dikenal, melakukan sesuatu yang penting kepada orang lain lewat musik.. Mereka juga sadar, karya terbaik akan menghasilkan kompensasi bagi mereka. Itu kalau bicara soal materi.

3. Menikmati Apa Yang Sedang Mereka Kejar & Lakukan.
Jadi musisi adalah beban? Kalau sudah berpikir seperti itu, siap-siap minggir dari industri musik bro. Proses mencipta lagu, mengaransemen, dan mempublikasikan karya supaya bisa dinikmati orang banyak, adalah bagian dari “kenikmatan” seorang musisi. Mereka mampu melihat tantangan untuk berhasil ini sebagai kesenangan; mereka memilih bekerja di mana mereka dapat berkreasi dengan bebas. Musisi yang ingin sukses, pasti menyukai tantangan; mereka menikmati pencapaian puncak perjalanan mereka.

Jangan pernah mengeluh dan patah arang. Banyak musisi yang sekarang sukses, awalnya adalah”gembel” dalam arti sesungguhnya. Kemudian mereka jatuh bangun dan mencapai sukses lewat jalan panjang. Saya lebih apresiasi kepada mereka yang sempat mengalami jatuh bangun seperti ini, karena seharusnya bisa lebih humble ketika sudah sukses.

4. Belajar Seumur Hidup.
Tidak ada musisi instan yang baik. Semua lahir dari proses pembelajaran yang panjang. Kalau ada yang merasa dirinya sudah jago, skillfull dan lebih hebat dibanding musisi lain, tampaknya dia harus belajar lebih keras. Musisi yang ingin sukses, dia adalah seorang pelajar seumur hidup. Bahkan ketika dia mencapai puncak karir, dia tetap harus belajar hal baru di dunia musik itu sendiri.

Mereka harus menyadari, belajar itu tak pernah berakhir tapi dimulai di setiap tingkatan kehidupan dan terus berlanjut hingga akhir kehidupan. Karena itu, tetaplah mengalir sesuai perubahan ketertarikan dan kemampuan Anda, dan nikmati perubahan. Ini akan membantu Anda tumbuh dan merasakan lebih percaya diri. Banyak yang meremehkan Dody Kangen misalnya, tapi ketika belajar lebih keras, sekarang dia bisa mencipta lagu untuk penyanyi lain dan cukup laris.

5. Selalu Berpandangan Positif
Orang yang berpikir dan berpandangan positif, akan melihat sukses orang lain, musisi lain, penyanyi lain, sebagai pemicu untuk mengejar dalam arti positif. Lebih bagus kalau dianalisa, dievaluasi dan kemudian dicari strong poin kenapa dia bias sukses. Anda jangan berada pada posisi musisi yang ‘susah melihat orang senang, dan senang melihat orang lain susah’.

Sebagai musisi yang ingin sukses, Anda harus menanamkan semangat pada diri sendiri dan dapat membayangkan diri bagaimana mereka berhasil mencapai tataran sulit atau mencapai penghargaan tertinggi dalam industri yang mereka tekuni ini. Musisi yang sukses harus berbuat bagaikan pelatih bagi orang lain, dengan menyuguhkan pesan-pesan positif dalam kehidupan sehari-hari. Mereka senang melihat orang lain membuat tonggak sejarah dalam kehidupan mereka. Jangan egois dan kemudian “terlalu” meyakini suksesnya adalah semata-mata kerja kerasnya sendiri.

6. Memotivasi Diri
Musisi yang sukses, selalu memotivasi diri. Ketika Rick Allen, drummer Deff Leppard harus diamputasi, orang nyaris menganggap karir badn ini habis, atau harus ambil drummer baru. Tapi dengan motivasi yang kuat, dia bisa menjadi salah satu drummer hebat dengan tubuh yang cacat. Musisi yang ingin sukses punya banyak cara untuk memotivasi diri sendiri sehingga dapat terus berkarya lebih baik dari yang lain. Ramona Purba punya keterbatan tak dapat melihat, tapi dengan motivasi kuat, dia bisa sukses dan menjadi salah satu penyanyi yang cukup diperhitungkan di Indonesia, beberapa waktu yang lalu.

7.Tidak Setengah-Setengah
The Beatles, Rolling Stones, Koes Plus, Panbers, Chrisye, adalah contoh musisi sukses yang menuju ke “pertempuran” industri dengan tidak dengan setengah-setengah, dan mereka menggunakan cara kreatif dalam meraih sukses. Meski mungkin membutuhkan waktu lebih lama, mereka akhirnya melampaui garis finis. Mereka manfaatkan waktu dengan baik dalam mensinergikan kemampuan musical, mental dan talentanya untuk mencapai sukses.

7 Cara Jadi seorang MUSISI

7 Cara Jadi seorang MUSISI

31 Mar
SEBENARNYA, menjadi musisi, menjadi penyanyi, composer atau segala tetek bengek yang berhubungan dengan musik, tak hanya bicara soal teknis, pembelajaran, akademis dan skill semata. Kalau ada yang berpikir bahwa menjadi musisi adalah sekadar menguasai instrument dengan baik, satu atau lebih alat musik, tampaknya bisa diperdebatkan.
Memang, menguasai instrument musik mungkin bisa disebut “sentral” ketika menjalani profesi sebagai musisi. Tapi ingat, ada hal-hal lain yang bisa membuat kamu yang tidak sejago musisi lainnya, tapi bisa berkembang dan justru bisa jadi musisi yang mumpuni.
Ada beberapa hal acuan untuk menjadi seorang musisi yang berkualitas, yang penulis sarikan dari beberapa sumber. Semoga bisa menjadi komparasi untuk memilih yang terbaik. Dan tentu saja ketika memutuskan jadi musisi, jadi musisi yang baik.
1.Aransemen:
Kedengarannya susah, dan ternyata memang tidak mudah. Tapi ketika kamu menguasai teori musik dasar, sebenarnya saat itu kamu bisa belajar soal aransemen ini. Lakukan eksperimen dengan instrument yang kamu kuasai dan mulailah berkreasi dengan musikmu.
2. Aksi Panggung:
Setelah bisa membuat aransemen, cari panggung dan peluang yang bisa membuat karyamu didengar dan diapreasiasi orang. Untuk pemula atau yang baru merintis karir sebagai rockstar atau popstar, penguasaan panggung, komunikasi dengan audiens, adalah pengalaman berharga dan pasti penting. Kelak, kamu bisa memilih panggung mana yang ingin kamu main. Dengan catatan, apresiasi terhadap musikmu mulai didapat. Kalau untuk pemula, panggung-panggung lokal dan kecil, bolehlah dicoba sebagai pemanasan.
3. Gabung Ke Komunitas Musik
Mencari komunitas atau lingkungan bermusik yang sehat, tentu akan membuat skill dan kemampuan personalmu meningkat. Kalau berada di area yang sama sekali tidak ngerti teknis, komposisi dan aransemen, agak sulit tentunya untuk mengembangkan diri. Bergabung dengan band, paduan suara, chamber, atau orkestra, bisa mengasah teknis invidu kamu.

4. Intim Dengan Instrumen

Ternyata keintiman dengan alat musik dan instrument yang kita kuasai, memberi satu sugesti untuk bisa memainkannya dengan fun, rileks dan menggunakan hati. Ini tidak melulu bicara soal waktu belajar yang ditambah, waktu kursus yang digeber, atau latihan ngeband-nya juga ditambah. Tapi lebih kepada ‘perasaan’ memiliki ‘rasa’ dan emosi yang bisa didapat dari instrumen yang dikuasai. Misalnya, seorang gitaris harus tahu dan paham benar soal string, titi nada yang nyaman dan bisa memainkannya dengan enak dan menyenangkan. Atau seorang pemain biola [violinist] yang mengerti suara instrument itu, seolah sedang menikmati suara itu sendiri. Kepekaan emosional dengan instrument ternyata jadi hal penting.
5. Diversify (kreatif & unik)
Sebagai seorang musisi, mungkin kita punya acuan musik yang jadi kiblat kita. Tapi mencoba menelisik dan kemudian belajar menikmati musik yang tidak biasa kita dengar, akan membantu wawasan kita. Misalnya kamu tidak suka dengan ska, punk atau rock misalnya. Cobalah “menyentuhnya’ dengan alat musikmu. Kadang-kadang ditemukan satu “kenikmatan” dan style musik yang enjoy dan fun, dari ketidaksukaan terhadap musik itu sendiri. Paling tidak punya pengalaman baru bermain-main di area yang tidak kita kenal sebelumnya.

6. Mendengar, Mendengar & Mendengar Musik

In Melatih kepekaan telinga terhadap musik. Hal ini harus kita latih terus menerus dibanding sekadar bermain musik tanpa juntrungan yang jelas. Di era sekarang yang teknologi sudah di depan mata, ada banyak cara dan peluang untuk mendengar dan mengerti sebuah komposisi dengan lebih baik. Ini akan membantu kita, saat mendengar satu komposisi musik yang mungkin kurang nyaman baik dari karya sendiri atau komposisi milik musisi lain.
7. Diet Musikal:
Mungkin istilah ini terasa aneh. Tapi maksudnya begini. Seperti orang yang sedang diet, kamu harus fokus dengan instrument apa yang ingin kamu mainkan. Itu tentu saja untuk mendapat hasil terbaik. Fokus dan berlatih menjadi salah satu acuan untuk menjadi seorang musisi yang baik dan berhasil.
Guys, apa yang sudah dibeber, mungkin secara teoritis. Tapi apa yang sudah ditulis di atas, berdasar penelitian ilmiah di Inggris loh. Tapi rasanya, di Indonesia pun tidak jauh berbeda bukan? So, Siap jadi musisi?
 
i
 

Tips Belajar Menjadi Musisi



Di negeri ini sebagian besar musisi yang sukses dalam industri musik adalah seorang otodidak. Sementara musisi akademis sangat jarang terlihat. Betulkah persoalan otodidak vs akademis adalah persoalan hitam vs putih? Tentu tidak sesederhana itu. Tetapi persoalan itu akan dibahas lain kali. Tetapi kenyataannya adalah bahwa mereka yang mengaku otodidak sebenarnya juga menggunakan ilmu-ilmu akademis meskipun tanpa disadarinya.

Persoalan otodidak-akademis adalah persoalan duluan mana antara ayam-telur. Maka mari singkirkan dahulu perdebatan tentang “ayam-telur” tersebut. Yang lebih penting kali ini adalah bagaimana menjadi seorang otodidak yang sukses? (tentu saja kata sukses disini bukan berarti sukses secara materi tetapi sukses mendapat ilmu
tarian jawa).

Syarat utama untuk seorang otodidak adalah kemauan keras. Karena untuk mendapatkan sebuah ilmu seseorang otodidak harus “mencari sendiri”. Berbeda dengan kondisi dalam sebuah lembaga pendidikan. Apa saja yang harus dipelajari hingga tahapan materi yang mesti dipelajari telah disusun secara sistematis (meskipun banyak juga lembaga pendidikan musik yang sama sekali tidak memiliki sistem pengajaran. Ini parah sekali, lihat disini juga
jual sprei ). Tetapi sesungguhnya materi yang akan dipelajari oleh otodidak maupun akademis adalah sama. Maka kuncinya adalah pahami dahulu “petanya” agar tidak tersesat. Jika belajar dengan buku, bedakanlah antara buku yang memberi ilmu secara “instan” dengan buku yang membahas suatu masalah dari pokok persoalannya. Hal ini hampir sama dengan ungkapan: berilah kail jangan cuma ikan. Dengan pengetahuan yang mengakar membuat banyak persoalan menjadi jauh lebih mudah dipecahkan. Berbeda dengan pengetahuan yang bersifat instan yang hanya memberi satu jawaban untuk satu persoalan.

Lembaga pendidikan seperti
dj school bagi yang belajar musik di lembaga pendidikan, tempat kursus, ataupun private di rumah, tentu bebannya jauh lebih sedikit. Karena materi telah dipersiapkan. Sehingga siswa tinggal berkonsentrasi menerima pelajaran yang diberikan. Tetapi perlu diwaspadai, karena tidak semua lembaga pendidikan musik memiliki sdm dan sistem yang kredibel. Kesuksesan sebuah proses belajar mengajar tergantung dari tiga faktor: pendidik, anak didik, dan sistem pengajarannya.
Jadi belajar di manapun, asalkan ketiga faktornya mendukung, tentu hasilnya akan memuaskan. Persoalannya kemudian adalah, bagai mana cara mengetahui (terutama) seorang pendidik musik dan sistem pengajarannya cukup bagus? Seorang pemain yang bagus belum tentu dapat menjadi pendidik yang bagus. Sebelum memutuskan untuk belajar pada lembaga pendidikan tertentu atau seseorang yang dapat mengajar musik, lebih baik tanyakan dahulu tentang silabus pengajarannya.

Dukung kampanye stop dreaming start action